Goresan pikiran dari seorang Muslimah Pencari Kebenaran

Sepucuk cinta untuk Ibuku, di pembaringan abadi

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dear Bu guru…

Hari itu matahari bersinar terang. Aku melihat senyuman bahagia tersungging di bibirmu. Ku rasakan hangatnya kasih dan sayang yang kau berikan padaku. Aura bahagia berselimut di jiwamu yang kian rapuh dan retak itu.

Aku bertanya dalam hati, apa arti dari semua itu? Biasanya, Kau tak pernah sebahagia hari itu. Saat itu, tawamu begitu lepas. Tak ada duka. Yang ada hanya bahagia. Aku masih bertanya, apa arti bahagiamu itu Bu? Ketika Kau mengajariku di dalam kelas, Kau begitu bersemangat. Tidak seperti biasanya. Senyummu, senyummu itu yang takkan pernah Kulupa. Senyum bahagia, namun penuh tanda tanya.

Aku bertanya padamu, ”Wahai Ibu, ada apakah gerangan dalam dirimu? Mengapa Kau begitu bahagia hari ini?”. Saat itu, Kau menatapku dalam…,dalam sekali. Hingga Aku merasakan ada kehangatan cinta yang menelusup kedalam sukmaku. Kau belai rambutku, sambil menatapku dengan senyuman yang masih terkembang. Sambil berkata, ”Wahai anakku, Aku bahagia. Karena sebentar lagi tugasku, usai sudah”. Aku tak mengerti, apa maksud kata-katamu itu. Saat itu, Aku hanya bisa menatapmu heran, penuh tanda tanya.

Hari itu juga, tak biasanya Kau memberikanku sepucuk sapu tangan biru muda. Warna kesukaanku..Ku terima hadiah itu dengan penuh rasa bahagia. Kau berkata padaku. ”Anakku, ini adalah kenang-kenagan dari Ibu untukmu. Karena, sebentar lagi kita tidak bertemu lagi. Karena tugasku untuk mendidikmu, sudah selesai sampai disini”. Kau kembali membuatku heran dengan kata-katamu itu. Kenapa Kau selalu mengatakan kata ”usai sudah” dan ”sudah selesai”? Apa pertanda dibalik kata-katamu itu?

Dua bulan setelah hari itu, ketika Aku mengikutu ujian akhir, Aku menerima kabar, bahwa Kau sedang sakit keras. Betapa terkejutnya Aku. Tanpa Kusadari, air mataku menetes di sudut pipiku. Ku hapus dengan sapu tangan biru muda pemberianmu itu. Kabar itu, sangat menyakitkan untukku. Namun, kabar itu juga menjadi penguat semangatku agar bisa berhasil dalam ujian akhir itu.

Beberapa bulan kemudian, ketika pengumuman kelulusan itu…, Aku tak hanya menerima kabar bahagia karena Aku lulus ujian. Namun, Aku juga menerima kabar yang membuatku bagai tersengat listrik ribuan volt. Dari papan pengumuman sekolah, Aku membaca sebait kabar duka yang mengatakan bahwa, Kau telah pergi menghadap Sang Maha Pencipta. Kau pergi meninggalkanku selamanya. Meninggalkan kenangan manis, dan mengukir kasih dalam hatiku. Air mataku tak dapat kutajan lagi saat itu. Mengucur deras bagai air bah. Lebih deras dari arus sungai, lebih dahsyat dari badai tsunami. Ternyata, inilah jawaban mengapa akahir-akhir ini Kau begitu bahagia. Kau ingin meninggalkan kebahagiaan dan kenangan manis bersamaku saat detik terakhir sebelum kanker otak itu merenggut nyawamu.

Hari itu juga, Aku datang melihatmu untuk terakhir kalinya. Dalam ruangan yang serba putih, bercampur bau obat-obatan kimia. Kau terbaring tak bernyawa. Ku peluk tubuhmu untuk terakhir kalinya. Kaulah Ibuku. Ibu yang mendidikku, mengajariku membaca, menulis, dan memberikan banyak ilmu pengetahuan. Jasadmu harum. Wajahmu berseri. Aku masih bisa melihat senyuman bahagia itu tersungging kembali di bibirmu.

Hari itu, mendung berselimut mengantar kepergianmu. Langit seakan tururut berduka atas kepergianmu. Orang-orang berduka. Semua orang yang mencintaimu, ikut mengantarkanmu ke tempat peristirahatan terakhirmu yang abadi, dan damai. Bau wangi itu tersebar dimana-mana. Wangi kasih sayang, wangi cinta, dan wangi ilmu yang abadi. Selamat tinggal Ibu. Selamat jalan pahlawanku, elamat beristirahat duhai pelipur duka hatiku. Semoga Kau tenang dan damai disisinya. Ilmu, cinta, kasih, dan sayang yang Kau berikan padaku, takkan pernah hilang dalam ingatan dan namamu akan selalu abadi dalam hatiku, selamanya…

I LOVE YOU MY BELOVED TEACHER…

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dari Anandamu,

LAILAN SYAFIRA

Created By : LAILAN SYAFIRA

Iklan

Wanita

Bukan dari tulang ubun ia dicipta

Sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja

Tak juga dari tulang kaki

Karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak

Tapi…dari rusuk kiri

Dekat ke hati…Untuk dicintai

Dekat ke tangan…Untuk dilindungi

Dia adalah……WANITA

@@ by : musyafir malam | medan, 18 Juni 2008 @@

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!